PROYEK MANGKRAK SRAGEN Nasib Pabrik Pupuk Organik Hibah Kementerian Perindustrian Terkatung-Katung
Gondang, Pemerintahan, Tunggul, UMKM, Utama 07.41
Nasib pabrik pupuk organik hibah Direktorat Jenderal (Dirjen) Basis
Industri Manufacture (BIM) Kementerian Perindustrian senilai Rp1,2
miliar yang dibangun di Desa Tunggul, Kecamatan Gondang, Sragen, semakin
tak jelas. Proyek tersebut mangkrak karena mesin pabrik yang didrop
rekanan Dirjen BIM belum bisa digunakan karena belum sesuai spesifikasi.
Mesin
pabrik yang dibangun di atas lahan Pemerintah Desa Tunggul itu sempat
diperbaiki rekanan dari PT Hinoka Jakarta, namun hasilnya nihil. Kini,
mesin pabrik dibiarkan mangkrak karena pihak pengelola tidak berani
menggunakan sebelum mesin benar-benar sesuai spesifikasi. Staf Ahli
Bidang Pemerintahan, Makhsun Isnadi, kepada Solopos.com beberapa waktu
lalu ketika masih menjabat sebagai Kepala Disperinkop dan UMKM Sragen,
mengatakan ia sudah belasan kali mengirim surat kepada kementerian agar
rekanan kembali memperbaiki pabrik.
Sementara itu, lanjut Makhsun,
rekanan kementerian dari PT Hinoka, tidak memperbolehkan pihak
pengelola menggunakan mesin-mesin pabrik sebelum benar-benar fix. Namun,
jika ditanya kapan akan diperbaiki, pihaknya tidak pernah mendapatkan
jawaban pasti. “Saya juga eman, mesin pabrik dengan harga miliaran,
malah akhirnya enggak bisa digunakan. Ini sudah setahun lebih tapi belum
juga bisa digunakan,” tegasnya.
Padahal, akhir 2013 lalu, pihak
kementerian sempat mengatakan bahwa Kabupaten Sragen dijadikan sebagai
pilot projek penggunaan pabrik pupuk. Jika Kabupaten Sragen berhasil,
maka program hibah pabrik pupuk organik di wilayah lain juga dianggap
berhasil, dan sebaliknya. Mengingat, manajemen pengelolaan pabrik pupuk
dari Sragen dianggap lebih siap. Pemerintah Kabupaten Sragen telah
menggelontorkan dana sekitar Rp400 juta untuk membiayai pembangunan
gedung, sedangkan warga sekitar Desa Tunggul juga sudah diberi pelatihan
dasar pengoperasian mesin pabrik.
Pengelola pabrik, Teguh,
mengatakan pihak rekanan dari PT Hinoka terakhir datang ke Gondang
sekitar Oktober lalu. Namun, ketika teknisi dari PT Hinoka kembali
bertolak ke Jakarta, kondisi mesin juga belum maksimal. Saat itu teknisi
rekanan sempat menjanjikan akan kembali lagi ke Sragen tapi tidak ada
kabar hingga sekarang.
Ia mengaku mesin-mesin pabrik dibiarkan
mangkrak karena pihaknya tidak berani mengutak-atik. Sementara itu,
sejumlah warga yang dipersiapkan untuk jadi pekerja di pabrik tersebut
pun ikut pasrah dan mencari pekerjaan lain. “Kami enggak lagi
menghubungi rekanan. Kami sudah bosan. Ini kami serahkan ke dinas agar
mendorong rekanan untuk mendorong rekanan segera memperbaiki pabrik
itu,” tegasnya, Minggu (12/1/2014).
Sumber : http://www.solopos.com
JADILAH ORANG PERTAMA YANG MENGOMENTARI :

